SD MUHAMMADIYAH PROGRAM KHUSUS JOGONALAN

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

SD MUHAMMADIYAH PROGRAM KHUSUS JOGONALAN

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 28 Mei 2013

Bocah SD Rela Menantang Maut demi Sekolah

SEORANG bocah di Ciamis rela menantang maut agar tak terlambat sampai di sekolah. Dia meniti jembatan rusak tanpa pijakan. Nyawa pun, jadi taruhan.
Toni Andrian bukan seorang pemain akrobat. Bukan pula tim SAR yang lihai bergelut dengan alam. Namun setiap pagi, dia kerap menantang maut. Melintasi jembatan gantung sepanjang 100 meter tanpa papan pijakan. Nyawa pun, jadi taruhannya.
Toni adalah siswa kelas V SDN 2 Cigayam Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis. Keberaniannya meniti jembatan tanpa pijakan, bukan tanpa sebab. Dua tahun lalu, jembatan penghubung Desa Cigayam dengan Sindangrasa Kecamatan Banjarsari itu rusak.
Hingga saat ini, pemerintah setempat belum memperbaiki jembatan itu. Padahal, kabar beredar menyebutkan, jembatan itu pernah menelan korban jiwa. Seorang pelajar jatuh ke dasar Sungai Ciputrahaji.
Toh, Toni bergeming. Dia sama sekali tak takut berangkat sekolah maupun pulang menyeberangi jembatan rusak, “ Saya tidak merasa takut karena sudah terbiasa, pagi dan siang saya selalu melintasi jembatan gantung ini,” akunya.
Jembatan gantung sepanjang 100 meter berada di Dusun Purwasari RT 06/04 Desa Cigayam Kecamatan Banjarsari Ciamis. Menurut Toni, jembatan itu rusak termakan usia. Namun, perawatan maupun perbaikan dari pemerintah setempat tidak pernah dilakukan.
“Kalau melihat ke bawah (dasar sungai) saya suka merasa takut jatuh. Namun hal itu saya sisihkan demi menuju tujuan menimba ilmu,” tuturnya.
Meski sulit, Toni tetap melintasi jembatan itu sebagai alternatif. Lama-lama, dia terbiasa berangkat sekolah melintasi jalur maut itu. “Ketakutan saya itu ketika harus bergelayutan di atas kawat jembatan ini," tuturnya.
Andai melewati jalur lain, Toni khawatir terlambat tiba di sekolah. Sebab, posisi jalan lain yang harus dilaluinya memutar. “Melalui jalan alternatif pun saya kadang pas-pasan, apalagi harus memutar arah, wah bisa kesiangan setiap harinya,” cetusnya.
Setiap hari, Toni bangun pukul 05.00 WIB. Dia langsung membantu ibunya di rumah. Setelah itu, sekitar pukul 05.30 WIB, bocah itu mandi dan bersiap sekolah. “Dari rumah saya berangkat ke sekolah sekitar jam 06.00 WIB. Karena perjalanannya jauh, tiba ke ruang kelas sekitar jam 07.15 WIB,” akunya.
Meski harus menantang maut, Toni tak patah semangat untuk meraih mimpi lulus dari sekolah dasar. “Walaupun nyawa saya terancam saat melintasi jembatan gantung yang rusak ini, semangat saya tidak akan pernah surut,” tutupnya. (andriansyah/gin)

KURIKULUM 2013 : DPR-Kemendikbud Sepakati Anggaran Rp829 Miliar

JAKARTA–Kurikulum pendidikan 2013 tak lama lagi akan diterapkan. Komisi X DPR dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyepakati anggaran untuk pelaksanaan Kurikulum 2013 sebesar Rp829.427.325.000.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam rapat kerja antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh dengan Komisi X DPR RI pada Senin malam, yang dipimpin oleh Ketua Komisi X Agus Hermanto, demikian siaran pers Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kemdikbud yang diterima Antara di Jakarta, Selasa (28/5/2013).
Agus Hermanto mengatakan kesimpulan dari pandangan fraksi-fraksi menyetujui anggaran Kurikulum 2013. Ada enam fraksi menyetujui dan menyetujui dengan catatan, dan ada tiga fraksi belum menyetujui.
Anggaran yang disepakati ini mengalami perubahan dari usulan sebelumnya, yakni sebesar Rp1.153.240.976.000, sehingga ada sisa Rp323.813.651.000. Usulan pemanfaatan sisa alokasi anggaran kurikulum tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam waktu dekat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kata Agus.
Sebanyak sembilan fraksi memberikan pandangan terhadap Kurikulum 2013 dan anggarannya. Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Gerindra menyatakan setuju implementasi Kurikulum 2013. Adapun Fraksi Partai Golkar, Fraksi PDI Perjuangan, dan Fraksi Partai Hanura setuju dengan catatan, sedangkan Fraksi Partai Amanat Nasional setuju untuk dilakukan uji coba (piloting).
Sementara Fraksi Partai Persatuan Pembangunan meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013, sedangkan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera belum menyetujui dan menyatakan meminta penundaan setelah Juli 2014.
Mendikbud Mohammad Nuh menghormati dan menghargai pandangan fraksi-fraksi yang dinilai variatif. Perbedaan pandangan tersebut, kata Mendikbud, merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Mendikbud menyatakan syukur meskipun dengan segala keterbatasan akhirnya bisa disetujui untuk urusan Kurikulum 2013.
Perwakilan Fraksi Partai Demokrat, Jefri Riwu Kore, memberikan atensi yang tinggi terhadap rencana pemberlakukan Kurikulum 2013. Fraksinya berpandangan, Kurikulum 2013 yang didesain oleh pemerintah, dalam hal ini Kemdikbud, merupakan produk yang melalui proses panjang.
Ia menyatakan rasa optimistis Kurikulum 2013 dapat diimplementasikan sesuai target dan jadwal yang telah diusulkan pemerintah.

Jumat, 24 Mei 2013

Sekilas Tentang SDMPK Jogonalan



Tujuan Pendidikan Dasar sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 adalah meletakan dasar kecerdasarn, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk kehidupan mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Sejalan dengan itu, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan sosial memiliki peranan cukup penting dalam upaya turut serta membangun bangsa melalui pendidikan. Muhammadiyah selama ini telah terbukti melahirkan putra-putri terbaik bangsa melalui pendidikan sebagai pembentuk generasi muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlaq mulia, cakap, percaya pada diri sendiri, berdisiplin, bertanggung jawab, cinta tanah air, memajukan serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, beramal menuju terwujudnya masyarakat utama, adil, dan makmur.
Atas dasar pemikiran tersebut, Majelis Pendidikan Dasar Pimpinan Cabang Muhammadiyah  Jogonalan mendirikan Amal Usaha Pendidikan yaitu Sekolah Dasar Muhammadiyah Program Khusus (SDMPK) Jogoanalan.
SD Muhammadiyah Program Khusus Jogonalan berdiri atas dasar keprihatinan para pendiri akan minimnya sekolah dasar yang menekankan pendidikan akhlak dan agama Islam di wilayah Jogonalan. Disamping itu, muatan kurikulum Agama pada sekolah umum saat ini dirasakan masih kurang. Akibatnya, bekal keIslaman pada anak lulusan Sekolah Dasar  menjadi kurang.


Visi SD Muhammadiyah Program Khusus Jogonalan
Terwujudnya lembaga pendidikan yang mampu mendidik generasi beriman, bertaqwa, cerdas, kreatif, dan berakhlakul karimah yang berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Misi SD muhammadiyah Program Khusus Jogonalan
Untuk mewujudkan visi sekolah tersebut di atas, maka SD Muhammadiyah Plus Jogonalan memiliki misi sebagai berikut :
1.       Menanamkan keyakinan / aqidah tauhid kepada seluruh peserta didik.
2.       Menciptakan lingkungan belajar yang berlandaskan nilai-nilai Islam sehingga terbangun insan yang beriman, bertaqwa, cerdas, kreatif, dan berakhlakul karimah
3.       Mengembangkan potensi kecerdasan majemuk siswa dengan melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga dapat berprestasi sesuai dengan perkembangan zaman.
4.       Melaksanakan pembelajaran yang dapat membentuk pribadi yang jujur, tanggung jawab, disiplin, mandiri dan peduli.
5.       Membiasakan peserta didik memiliki rasa tanggung jawab pada diri dan tugas pokoknya, memberikan kesempatan untuk beramal sholeh bagi keluarga dan masyarakat disekitarnya.
Unggulan :   Kreatif, Inovatif, Keseimbangan Spiritual dan Intelektual
Karakter :            Islamic School and Fullday School
                                Enjoyable Learning         

Tujuan dan MOTTO 
Tujuan Pendidikan SD Muhammadiyah Program Khusus Jogonalan
Membentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cerdas, percaya diri, berdisiplin, bertangunggjawab, cinta tanah air, memajukan dan memperkembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan serta beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya


Target Pendidikan SD Muhammadiyah Program Khusus Jogonalan
Individual, dengan target penguasaan ilmu pengetahuan, peningkatan iman, perbaikan ahlaq dan memperbanyak amal melalui sarana pengajaran di sekolah dengan target kebiasaan berjamaah, berukhuwah Islamiah dan selalu ber-tawashau bil haqqi watawashau bi sabr, ber-amar ma’ruf nahi munkar melalui sarana di sekolah.
Motto SD Muhammadiyah Program Khusus Jogonalan
“CERDAS CERIA TERAMPIL DAN TAQWA”

Senin, 20 Mei 2013

Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah


Di era sekarang, karakter merupakan sesuatu yang jarang ditemukan pada masyarakat Indonesia. Dilihat dari banyaknya ketidakadilan serta kebohongan-kebohongan yang dilakukan masyarakat kita. Bahkan ditingkat yang lebih tinggi sendiri, yaitu pemerintah yang tak mengenal lagi sebuah karakter diri sebagai makhluk Tuhan dan sosial. Menurut Prof. Suyanto Ph.D,karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Potensi karakter yang baik telah dimiliki tiap manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah-natural) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan-natural). Pendidikan merupakan salah satu wadah dalam menunjang pembentukan karakter tiap individu. Sekolah Dasar adalah merupakan pendidikan awal penanaman karakter anak dalam perkembangan dirinya. Tak bisa kita mungkiri bahwa banyaknya generasi di Indonesia, yang tidak mengenal dirinya sebagai bangsa Indonesia—yang memiliki berbagai macam suku, budaya, dan kultur sosial yang berbeda.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran atau amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Meskipun semua pihak bertanggungjawab atas pendidikan karakter calon generasi penerus bangsa (anak-anak), namun keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Untuk membentuk karakter anak, keluarga harus memenuhi tiga syarat dasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Yaitu,maternal bonding, rasa aman, stimulasi fisik dan mental. Selain itu, jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya juga menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak di rumah. Kesalahan dalam pengasuhan anak di keluarga akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru (didengar dan dicontoh), dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.
Kegagalan guru dalam menumbuhkan karakter anak didiknya, disebabkan seorang guru yang tak mampu memperlihatkan dan menujukkan karakter sebagai seorang yang patut didengar dan diikuti. Sebagai seorang gurutidak hanya sekedar menyampaikan materi ajar kepada siswa.Namun, yang lebih mendasar dan mutlak adalah bagaimana seorang guru dapat menjadi inspirasi dan suri tauladan yang dapat merubah karakter anak didiknya—menjadi manusia yang mengenal potensi dan karakternya sebagai makhluk Tuhan dan sosial.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia.Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Jika karakter anak telah terbentuk sejak masa kecil mulai dari lingkungan sosial sampai Sekolah Dasar, maka generasi masyarakat Indonesia akan menjadi manusia-manusia yang berkarakter—yang dapat menjadi penerus bangsa demi terciptanya masyarakat yang adil, jujur, bertartanggung jawab—sehingga tercipta masyarakat yang aman dan tentram sebuah suatu negara.Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Memahami Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.
Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.