SEORANG bocah di Ciamis rela menantang maut agar tak terlambat sampai di sekolah. Dia meniti jembatan rusak tanpa pijakan. Nyawa pun, jadi taruhan.
Toni Andrian bukan seorang pemain akrobat. Bukan pula tim SAR yang lihai bergelut dengan alam. Namun setiap pagi, dia kerap menantang maut. Melintasi jembatan gantung sepanjang 100 meter tanpa papan pijakan. Nyawa pun, jadi taruhannya.
Toni adalah siswa kelas V SDN 2 Cigayam Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis. Keberaniannya meniti jembatan tanpa pijakan, bukan tanpa sebab. Dua tahun lalu, jembatan penghubung Desa Cigayam dengan Sindangrasa Kecamatan Banjarsari itu rusak.
Hingga saat ini, pemerintah setempat belum memperbaiki jembatan itu. Padahal, kabar beredar menyebutkan, jembatan itu pernah menelan korban jiwa. Seorang pelajar jatuh ke dasar Sungai Ciputrahaji.
Toh, Toni bergeming. Dia sama sekali tak takut berangkat sekolah maupun pulang menyeberangi jembatan rusak, “ Saya tidak merasa takut karena sudah terbiasa, pagi dan siang saya selalu melintasi jembatan gantung ini,” akunya.
Jembatan gantung sepanjang 100 meter berada di Dusun Purwasari RT 06/04 Desa Cigayam Kecamatan Banjarsari Ciamis. Menurut Toni, jembatan itu rusak termakan usia. Namun, perawatan maupun perbaikan dari pemerintah setempat tidak pernah dilakukan.
“Kalau melihat ke bawah (dasar sungai) saya suka merasa takut jatuh. Namun hal itu saya sisihkan demi menuju tujuan menimba ilmu,” tuturnya.
Meski sulit, Toni tetap melintasi jembatan itu sebagai alternatif. Lama-lama, dia terbiasa berangkat sekolah melintasi jalur maut itu. “Ketakutan saya itu ketika harus bergelayutan di atas kawat jembatan ini," tuturnya.
Andai melewati jalur lain, Toni khawatir terlambat tiba di sekolah. Sebab, posisi jalan lain yang harus dilaluinya memutar. “Melalui jalan alternatif pun saya kadang pas-pasan, apalagi harus memutar arah, wah bisa kesiangan setiap harinya,” cetusnya.
Setiap hari, Toni bangun pukul 05.00 WIB. Dia langsung membantu ibunya di rumah. Setelah itu, sekitar pukul 05.30 WIB, bocah itu mandi dan bersiap sekolah. “Dari rumah saya berangkat ke sekolah sekitar jam 06.00 WIB. Karena perjalanannya jauh, tiba ke ruang kelas sekitar jam 07.15 WIB,” akunya.
Meski harus menantang maut, Toni tak patah semangat untuk meraih mimpi lulus dari sekolah dasar. “Walaupun nyawa saya terancam saat melintasi jembatan gantung yang rusak ini, semangat saya tidak akan pernah surut,” tutupnya. (andriansyah/gin)






0 komentar:
Posting Komentar